Anomali politik Pilkada dimata Ahok vs Afdoli


Dalam sebuah wawancara ahok menyatakan “Anomali Politik Pilkada” terkait berita survei yang katanya dibacanya lewat berita. hasil survei terhadap kepuasan publiknya tinggi namun elektabiltasnya yang masih rendah, inilah yang disebut ahok sebagai anomali politik di pilkada. Ahok menyatakan hala ini dapat disebabkan oleh adanya faktor orang yang salah menggunakan surat Al Maidah ayat 51. Dia mensinyalir Surat Almaidah adalah kambing hitam kenapa elektabilitasnya masih lebih rendah.

Namun disisi lain Tv one dalam acara cover story membedah keabsahan survey yang dilakukan populi dalam melakukan survei di DKI. Dimana diketahui bahwa populi adalah lembaga survei yang salah satu pengurusnya adalah Sunni Tanuwijaya. Nama satu ini diketahui setelah ramai kasus suap dalam reklamasi pantai utara Jakarta. Dan dia adalah staf khusus ahok gubernur DKI Jakarta. Oleh karenanya dapat dipastikan hasil survei tersebut juga diragukan karena politik kepentingan dan dapat dijadikan sebagai bahan propaganda.

Dan disini saya membantah penyataan ahok terkait anomali politik pilkada. Dimana ahok menyatakan kepuasan publik yang tinggi tidak diikuti oleh elektablitas adalah sebuah anomali politik pilkada. Memang ahok benar bahwa banyak faktor penyebabnya. Namun saya kurang setuju jika ini disebut anomali politik pilkada. Terlebih lagi ketika Ahok menyalahkan umat Islam yang menjalankan perintah Alquran, saya menentang keras pernyataan itu. Lihat tulisan Ketika elektabilitas Rendah Ahok Kambing Hitamkan Surat Al Maidah

Disamping hasil surveinya yang diragukan, banyak hal lain yang lebih layak dijadikan sebagai anomali politik pilkada. Ada banyak yang lebih pantas disebut anomali politik pilkada daripada sekedar perbedaan Kepuasan publik Tinggi dan elektabilitas rendah yang dikeluhkan ahok. Dan anomali politik Pilkada ini telah dilakukan oleh Ahok menjelang pilkada DKI sebagai berikut

1. Preseden buruk dengan mengkampanye kegagalan/keburukan walau itu disulap jadi keberhasilan.
2. Lebih mengutamakan Pencitraan dipentingkan daripada Visi Misi yang jelas membangun Daerah.
3. Melakukan kampanye yang lebih mengedepankan perlawanan terhadap negara
4. Melakukan Kampanye yang mengedepankan adu domba antara warga dengan partai politik
5. Kampanye SARA 
6. Penggunaan APBD dalam rangka dukungan Pilkada
7. Melakukan ancaman terhadap birokrasi yang tidak mendukungnya
8. Melakukan ancaman terhadap warga yang tidak mendukung dan memilihnya

Kedelapan hal ini yang seharusnya lebih pantas dialamatkan kepada ahok sebagai anomali politik pilkada daerah.

Semoga hal ini menjadi pembelajaran bagi kita. Jangan karena hanya mengejar jabatan gubenur, kita justeru mengabaikan kepentingan negara yang lebih besar, kesejahteraan masyarakat dan kestabilan politik.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Anomali politik Pilkada dimata Ahok vs Afdoli"

Posting Komentar