Sindir-menyindir vs Keterbukaan

Sindir-menyindir ahok vs Keterbukaan afdoli foto : analisadaily





Ada yang aneh jika anda mengikuti perkembangan pemberitaan ahok. Sosok incumbent gubernur DKI Jakarta adalah seorang yg tionghoa dari sumatera. Dimana sumatera dikenal budaya gaya bahasa yang blak-blakan alias terus terang. 

Tidak seperti biasanya, dalam pidatonya gubernur DKI ini dalam pidato di peresmian mengeluarkan joke yang agak lain. Salah satunya menggunakan istilah istikomah. “Saya ini istikomah ikatan suami takut istri kalau dirumah.” katanya

Utk seorang ahok, setiap ucapannya tentu memiliki makna. Namun kita gak tahu siapa yang sedang disindirnya kalau diperkirakan ada 3 sasarannya ( namun biar fokus, Insya Allah saya buat dalam tulisan Boleh Sindir tapi Jangan Fitnah Dong)

Mungkin bagi sebagian kita hal ini cuma joke saja kalau upin ipin bilang “gurau aje”. Namun yang menjadi pertanyaan: Apa rela generasi kita selanjutnya, lebih mengenal kata istikomah sebagaimana yang dipopulerkan ahok, ketimbang makna istikomah sesungguhnya yang berarti tegak lurus atau sikap teguh pendirian.

Disini kita mau melihat ada perubahan ahok dalam beberapa waktu ini yang lebih agak kalem, dan mulai main ilmu sindir menyindir. Sementara saya yang suku jawa biasanya lebih suka diam atau menyindir justeru bermain terbuka. Bisa jadi karena dilahirkan dan besar ditanah sumatera budaya bahasa sumatera sedikit banyak melekat. Walaupun beberapa sahabat yang menganggap saya sudah berubah.. hehe. 

Memang diam itu emas, namun tak selamanya juga kita harus diam

Ketika fitnah dan kesalahan telah berani dipertontonkan, apakah kita harus diam? 

Apakah kita rela budaya seperti ini diwariskan kepada generasi kita selanjutnya ? 
Indonesia tetaplah Indonesia dengan penuh keanekaragaman suku budaya dan bangsa. 

Oleh karenanya untuk menghadapi fitnah seperti ini, kita harus berani terbuka. Agar kita semua dapat memahami kebenaran dari apa yg menjadi fitnah yg dilakukan ahok cs. Keterbukaan ini juga perlu agar bangsa kita mulai dapat mendudukkan persoalan pada tempatnya. Kita harus berubah terhadap hal yang kita anggap tabu selama ini. Indonesia adalah Bangsa yang pernah besar, jangan sampai yang dianggap orang sebagai kelemahan kita selama ini, justeru dimanfaatin orang tertentu hanya untuk kepentingan pribadi dan golongannya saja. 

Semoga kita sebagai bangsa besar yang beraneka ragam suku, Bangsa berani mendefenisikan kembalinya, agar dapat dijadikan sebagai modal untuk kebangkitan Indonesia.

Salam Indonesia Bangkit dengan berani berubah untuk menuju indonesia baru yang lebih afdol.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sindir-menyindir vs Keterbukaan"

Posting Komentar