Ketika Ahok Berhasil Membuat Sekat Kedaerahan

Ketika Ahok Berhasil Membuat Sekat Kedaerahan anomali otonomi daerah

Di era awal reformasi, kebijakan otonomi daerah yang seluas-luasnya dicederai dengan munculnya fenomena putra daerah. Ego kedaerahan muncul dan berkembang dikhawatirkan berbahaya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hingga akhirnya UU Pemerintahan daerah diubah dan kebijakannya menjadi otonomi daerah yang bertanggung jawab. Ego kedaerahan pun perlahan mulai berubah.

Namun akhir-akhir ini kita dipertontonkan bagaimana nuansa kedaerahan itu muncul kembali dengan sepatu yang berbeda. Jika awal reformasi kemunculan ego kedaerahan seakan muncul dari akar rumput atau masyarakat yang menginginkan pemimpin (Gubernur, Bupati dan Walikota) yang putra daerah. Namun dalam era revolusi mental ini, justeru ego kedaerahan muncul dari elit atasnya. Pemimpin daerah terkesan mengabaikan warga yang bukan berKTP daerahnya. Banyak alasannya yang melatarbelakanginya salah satunya keterbatasan anggaran. 

Fenomena ini terungkap saat Pemda DKI melakukan penggusuran di wilayah Jakarta baik di kampung melayu, kali jodoh hingga pasar ikan luar batang. Kita dapat lihat sendiri bagaimana perlakuan Ahok selaku gubernur kepada masyarakat korban penggusuran. Yang memiliki KTP Jakarta dan memiliki sertifikat saja bisa terlantar dan menjadi seperti korban pengungsian bencana (Lihat kondisi terakhir korban penggusuran luar Batang). Apalagi nasib korban gusuran yang tidak memiliki KTP Jakarta, bagaimana nasib mereka? Pernahkah terpikirkan kita!

Sebuah logika yang aneh, dalam era dimana tenaga kerja asing secara besar-besaran mulai memasuki Indonesia. Tetapi Warga Negara Indonesia aslinya justeru dibatasi secara berlebihan dengan ukuran KTP. Sementara Warga Negara Asing diindikasikan dengan mudah memiliki KTP Indonesia, tapi WNI aslinya sendiri justeru terpinggirkan. Apakah ini yang kita sebut keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Dimana letak keadilan hak masyarakat didalam kehidupan bernegara? Dimana tanah air yang diperjuangkan oleh pendahulu kita. Apakah jakarta memang ramah untuk warga asing dan kejam untuk warga negara Indonesia sendiri. Apakah kita diam dan menunggu kejadian ini terjadi di depan mata kita sendiri, atau pada diri kita sendiri? Lewat kata dan jempol kita dapat membantu memberikan pencerahan terhadap bangsa ini dan demi kemajuan negeri tercinta.



Informasi terkait 

1. Sekat Daerah dalam Sepatu Baru
2. Akhirnya Jendral Naga Bonar ikut Melawan
3. Apakah kita diam, sampai kejadian menimpa kita
4. Kondisi terkini Korban gusuran Luar Batang
5. Ukuran kita Menilai adalah Aturan
6. Kita Hidup Tidak untuk Diri Sendiri
7. Siapapun Berhak berdiri Tegak di NKRI

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ketika Ahok Berhasil Membuat Sekat Kedaerahan"

Posting Komentar